Sukeban
Definisi
Sukeban berarti bos perempuan. Istilah ini merujuk pada pemimpin geng sekaligus kelompoknya. Mereka muncul pada akhir 1960-an sebagai tandingan geng banchō laki-laki yang eksklusif. Secara gaya, sukeban adalah bentuk subversi terhadap seragam sekolah. Seragam pelaut atau seifuku diubah total. Rok dibuat panjang hingga menyentuh mata kaki untuk menentang tren rok mini. Atasan dipotong untuk memperlihatkan perut. Kerah dan mantel dihiasi bordir mawar dan slogan kanji yang provokatif. Kustomisasi mandiri ini muncul bersamaan dengan gerakan punk di Inggris. Film produksi Toei dan seri Sukeban Deka mempopulerkan budaya ini ke publik luas. Tren ini meredup pada 1980-an. Sekarang ia bertahan melalui film, manga, dan editorial mode.
Tata Bahasa Visual
Siluet
- Rok lipit panjang dari mata kaki hingga betis di bawah atasan berkerah pelaut.
- Atasan pelaut pendek yang memperlihatkan perut di atas rok pinggang tinggi.
- Bagian bawah tubuh tertutup rapat untuk melawan tren rok mini pada zamannya.
- Mantel panjang dengan bordir yang dipakai terbuka di atas seragam.
Bahan
- Kain seragam sekolah standar. Bahan institusional yang dimodifikasi, bukan kain mewah.
- Benang bordir untuk motif mawar, nama geng, dan slogan kanji pada kerah serta rok.
- Bandana dan syal yang dipakai longgar atau tanpa ikatan.
Konstruksi
- Kerah pelaut yang dipotong dan dijahit ulang secara manual.
- Keliman rok yang diturunkan atau ditambah panel kain agar lebih panjang.
- Bordir tangan yang diaplikasikan sendiri oleh pemakainya.
- Lengan baju yang digulung dan kaus kaki berwarna sebagai pengganti standar sekolah.
Warna
- Warna dasar seragam biru navy dan hitam dengan detail putih.
- Aksen merah pada benang bordir, syal, dan motif mawar.
- Rambut yang dicat terang atau dikeriting sebagai kontras terhadap warna gelap seragam.
Alas Kaki
- Sepatu kanvas seperti Converse sebagai pengganti pantofel reguler.
- Kaus kaki longgar yang sengaja dibuat menumpuk.
Logika Tubuh
Pakaian ini adalah seragam yang dipakai secara salah. Rambut dikeriting atau diterangkan warnanya. Alis dicabut hingga menjadi garis tipis yang tajam. Riasan wajah dibuat minimalis. Atasan pelaut dipotong pendek untuk memutus siluet pada garis pinggang alami. Rok lipit panjang menyembunyikan kaki sebagai kebalikan dari tren hemline pendek. Volume pakaian berada di bagian bawah dan terkesan longgar. Bagian torso terlihat formal namun panjang rok melambangkan pembangkangan. Mantel berfungsi sebagai media untuk bordir slogan di bagian punggung.
Contoh
- Saki Asamiya (Sukeban Deka)1975-1987Pahlawan wanita bersenjata yo-yo dari manga Shinji Wada dan serial televisi tahun 80-an. Dia adalah ikon utama citra sukeban di media massa.
- Reiko Ike dan Miki Sugimoto1971-1974Bintang film Toei awal 1970-an yang menetapkan representasi visual sukeban di layar lebar.
- Reiko Oshida1970-1971Pemeran utama dalam seri film Delinquent Girl Boss. Dia mewakili gelombang awal sinema sukeban.
- Makoto Kino / Sailor Jupiter1992-sekarangKarakter Sailor Moon dengan rok panjang dan reputasi tangguh. Dia menjaga kode visual sukeban tetap hidup bagi generasi baru.
Lini Masa
- Akhir 1960-anGeng sukeban pertama terbentuk sebagai tandingan geng banchō laki-laki.
- 1972Istilah sukeban mulai masuk ke dalam penggunaan bahasa sehari-hari di Jepang.
- 1970-1973Siklus film Toei memicu sensasi subbudaya ini melalui layar bioskop.
- Pertengahan 1970-anPuncak subbudaya sukeban dengan hirarki geng dan kode etik internal yang ketat.
- 1985-1987Serial televisi Sukeban Deka mengubah gaya ini menjadi budaya pop yang dibintangi idol.
- Penurunan 1980-anTekanan polisi membuat subbudaya ini memudar. Penerusnya berlanjut dalam gaya yankī dan klub motor perempuan.
- 2004-sekarangCitra visualnya bertahan lewat anime dan kembali muncul dalam berbagai editorial mode dunia.
Referensi
- Healy, Claire Marie. "Remembering Japan's badass 70s schoolgirl gangs." Dazed, 5 November 2015.
- Weinstock, Tish. "How Sukeban Is Redefining the Japanese Concept of Delinquent Girl Gangs." i-D, 23 Agustus 2017.
- "Sukeban Fashion: The Girl Gang Rebellion in School Uniforms." Yokogao Magazine.
- Miller, Laura, dan Jan Bardsley (eds.). Bad Girls of Japan. Palgrave Macmillan, 2005.
